bh2gWWW

Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah

Memasukin bulan Dzulhijjah terdapat amalan-amalan yang biasa dilakukan oleh umat muslim. Amalan-amalan yang dikerjakan antara lain berkurban, ibadah haji, dan puasa-puasa sunah. Bulan Dulhijaah disebut juga dengan musim haji, karena pada bulan ini umat muslim berbondong-bondong pergi ke baitullah untuk melaksanakan ibadah haji.

Setelah melaksanakan ibadah haji, seseorang akan mengharapkan menjadi haji yang mabrur. Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik yang diterima oleh Allah SWT. sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Maksudnya adalah melaksanakan ibadah haji dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta juga menghindari segala hal yang dilarang (muharramat) oleh-Nya yang dilakukan dengan penuh konsentrasi dan sepenuh hati semata-mata atas dorongan iman dan mengarap Ridha-Nya.

Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala atau balasan bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat mabrur.
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).

Mendapat predikat sebagai haji mabrur memanglah hanya bisa diberikan oleh Allah SWT. Namun, seseorang yang meraih haji mabrur tentu memiliki ciri-ciri tersendiri. Rasulullah SAW pun pernah memberikan ciri-ciri atau tanda bagi seseorang yang mendapat predikat haji mabrur.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

 

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.’”

Meskipun hadits ini divonis munkar syibhul maudhu’ oleh Abu Hatim dalam kitab Ilal ibn Hatim, tetapi ada riwayat lain yang marfu’ dan memiliki banyak syawahid. Bahkan divonis Shahihul Isnad oleh Al-Hakim dalam kitab Mustadrak-nya, walaupun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Sebagaimana dikutip Imam Badrudin Al-Aini dalam Umdatul Qari-nya.
سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه

Artinya, “Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ Al-Hakim berkata bahwa hadits ini sahih sanadnya tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”

Dari dua hadits di atas, tanda-tanda haji yang mabrur sebagai berikut.

  1. Santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam).
  2. Haji yang mabrur dapat menyebar kedamaian (ifsya’us salam).
  3. Memiliki rasa kepedulian sosial dengan menyenangkan dan memberi makan orang lapar (ith‘amut tha‘am)

Haji yang mabrur adalah haji yang maqbul atau diterima dan diterima kebaikannya dengan pahala. Sedang bukti bahwa haji seseorang itu maqbul atau mabrur adalah ia kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat.

وَقِيلَ : هُوَ الْمَقْبُولُ الْمُقَابَلُ بِالْبِرِّ وَهُوَ الثَّوَابُ، وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنْ يَرْجِعَ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِد الْمَعَاصِي

 

“Ada pendapat yang mengatakan: ‘Haji mabrur adalah haji yang diterima yang dibalas dengan kebaikan yaitu pahala. Sedangkan pertanda diterimanya haji seseorang adalah kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi melakukan kemaksiatan.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, juz, V, h. 112).

Haji yang mabrur juga akan mencerminkan sikap yang rendah hati atau tidak riya.

وَقِيلَ هُوَ الَّذِي لَا رِيَاءَ فِيهِ وَقِيلَ : هُوَ الَّذِي لَا يَتَعَقَّبهُ مَعْصِيَةٌ وَهُمَا دَاخِلَانِ فِيمَا قَبْلهُمَا

Ada ulama yang mengatakan haji mabrur adalah haji yang tidak ada unsur riya` di dalamnya. Ada lagi ulama yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah yang tidak diiringi dengan kemaksiatan. Kedua pandangan ini masuk ke dalam kategori pandangan sebelumnya.” (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, juz, V, h. 112).

Dari ciri-ciri haji mabrur di atas berarti bahwa haji yang mabrur tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, melainkan juga bagi kehidupan sosial dan sekitarnya. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *