1

Sering Disalahartikan, Inilah Perbedaan Muhrim dan Mahram

Mungkin Sobat Duha sering mendengar dan mengucapkan kepada orang lain yang bukan keluarga saat akan bersalaman dengan kalimat, “Maaf, bukan muhrim”. Tahu gak sih? Bahwa kata ‘Muhrim’ sering disalahartikan oleh banyak orang. Jadi, apa sih pengertian dan bedanya antara Muhrim dan Mahram? Yuk simak di bawah ini!

Muhrim

Kata ini yang lebih sering disalahartikan. Saat hendak bersalaman atau dekat dengan orang lain, sering kali seseorang mengatakan “Ih bukan muhrim!” Padahal makna ‘Muhrim’ yang selama ini kita yakini salah. Arti atau makna ‘Muhrim’ sangat jauh berbeda dari apa yang selama ini kita yakini. Banyak yang mengira bahwa muhrim adalah orang yang haram untuk dinikahi. Padahal, ‘Muhrim’ adalah orang yang melakukan ihram.  Jadi ‘Muhrim’ adalah orang yang melakukan Ihram ketika melaksanakan ibadah haji atau umrah di kala memasuki daerah miqat, kemudian setelah mengenakan pakaian ihram, juga harus menghindari semua larangan ketika sedang ihram, jadi orang semacam ini disebut dengan “Muhrim”. Asal kata ‘Muhrim’ dari “Ahrama-yuhrimu-ihraaman-muhrimun.

 

Mahram

Sementara itu, kata yang selama ini kita yakini sebagai orang yang haram untuk dinikahi disebut dengan ‘Mahram’. Untuk mahram, Imam an-Nawawi memberi batasan dalam sebuah definisi berikut, Setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, disebab sesuatu yang mubah, karena statusnya yang haram. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 9:105)

Kemudian beliau memberikan keterangan untuk definisi yang beliau sampaikan:

  • Haram untuk dinikahi selamanya: Artinya ada wanita yang haram dinikahi, namun tidak selamanya. Seperti adik istri atau bibi istri. Mereka tidak boleh dinikahi, tetapi tidak selamanya. Karena jika istri meninggal atau dicerai, suami boleh menikahi adiknya atau bibinya.
  • Karena ada sesuatu yang mubah: Artinya ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang tidak mubah. Seperti ibu wanita yang pernah disetubuhi karena dikira istrinya, atau karena pernikahan syubhat. Ibu wanita ini haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan mahram karena menyetubuhi wanita yang bukan istrinya, karena ketidaktahuan bukanlah perbuatan yang mubah.
  • Karena statusnya yang memang haram: Ada wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, namun bukan karena statusnya yang haram tetapi sebagai hukuman. Misalnya, wanita yang melakukan mula’anah dengan suaminya. Setelah saling melaknat diri sendiri karena masalah tuduhan selingkuh, selanjutnya pasangan suami-istri ini dipisahkan selamanya. Meskipun keduanya tidak boleh nikah lagi, namun lelaki mantan suaminya bukanlah mahram bagi si wanita.

 

Adapun wanita yang tidak boleh dinikahi karena selamanya ada 11 orang ditambah karena faktor persusuan. Tujuh diantaranya, menjadi mahram karena hubungan nasab, dan empat sisanya menjadi mahram karena hubungan pernikahan.

Muhrim = Mahram (yang haram dinikahi) menurut Islam adalah: Mahram bisa dibagi menjadi 3 kelompok. Yang pertama, mahram karena nasab (keturunan). Kedua, mahram karena penyusuan. Ketiga, mahram karena pernikahan.

Inilah wanita yang tidak boleh di nikahi, yaitu :

  1. Tujuh wanita yang tidak boleh dinikahi karena adanya hubungan nasab, yaitu :
  2. Ibu, nenek, buyut perempuan dan seterusnya ke atas,
  3. Anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah,
  4. Saudara perempuan, baik saudari kandung, sebapak, atau seibu,
  5. Keponakan perempuan dari saudara perempuan dan keturunannya ke bawah,
  6. Keponakan perempuan dari saudara laki-laki dan keturunannya ke bawah,
  7. Bibi dari jalur bapak (‘ammaat),
  8. Bibi dari jalur ibu (Khalaat).
  9. Empat wanita yang tidak boleh dinikahi karena hubungan pernikahan, yaitu :
  10. Ibu istri (ibu mertua), nenek istri dan seterusnya ke atas, meskipun hanya dengan akad,
  11. Anak perempuan istri (anak tiri), jika si lelaki telah melakukan hubungan dengan ibunya,
  12. Istri bapak (ibu tiri), istri kakek (nenek tiri), dan seterusnya ke atas,
  13. Istri anak (menantu perempuan), istri cucu, dan seterusnya kebawah

 

Nah, jadi sekarang Sobat Duha udah tahu kan bedanya Muhrim dan Mahram? Jangan sampai salah sebut lagi ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *