dua-11

Kesedihan Orang Beriman di Penghujung Ramadhan

Seperti tak kunjung henti, waktu bergulir begitu cepat. Bulan Ramadhan yang selalu dinanti oleh umat muslim akhirnya tiba di penghujung waktu. Sedikit lagi bulan Ramadhan akan meninggalkan kita, padahal rasanya kita belum memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh mulia ini. Di waktu-waktu akhir bulan Ramadhan, kita sering menjumpai orang orang yang merasa gembira dan mulai disibukkan dengan persiapan hari raya. Tentu sikap ini berbanding terbalik dengan para sahabat nabi dan orang-orang salih.

Kesedihan orang beriman di penghujung Ramadhan bukanlah tanpa sebab. Mereka bersedih karena menyadari Ramadhan, bulan yang suci, bulan yang penuh berkah, akan pergi meninggalkan mereka.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling berkah, di bulan ini pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hanya di bulan ini setan dibelenggu. Hanya di bulan ini pula ibadah terasa ringan dan kaum muslimin berada dalam pucak kebaikan.

Hanya di bulan Ramadhan amalan sunah diganjar dengan pahala amalan wajib dan seluruh pahala kebajikan dilipatgandakan hingga tak terbatas.

Semua keistimewaan itu tidak bisa kita temui di bulan manapun kecuali bulan Ramadhan, Ia hanya akan datang pada tahun berikutnya. Namun, tak ada yang menjamin diri kita masih hidup di tahun selanjutnya untuk bertemu bulan Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengingatkan bahwa pada bulan ini, seluruh umat muslim dapat diampuni dosa-dosanya. Jika seseorang sudah mendapati peluang pengampunan dosa di bulan Ramadhan dan belum juga mendapat ampunan, maka mereka benar-benar orang yang merugi.

Orang-orang beriman akan meneteskan air matanya setiap bulan Ramadhan pergi meninggalkan mereka. Di lisannya, selalu terucap doa ungkapan kerinduan akan datangnya kembali bulan Ramadhan. Agar mereka dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang.

Jika pada hari-hari akhir bulan Ramadhan biasanya orang-orang disibukkan dengan kue lebaran, pakaian bagus, dan perlengkapan idul fitri lainnya, maka orang-orang yang beriman akan bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah, terlebih di waktu malam.

Bahkan dikatakan dalam suatu hadits, di malam terakhir Ramadhan, langit dan para malaikat menangis karena berlalunya bulan penuh keistimewaan. Bahkan, hal itu dikatakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagai suatu musibah bagi umatnya.

Saat ditanya mengapa hal itu disebut musibah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan: “Dalam bulan itu segala doa mustajab, sedekah makbul, segala kebajikan digandakan pahalanya, dan siksaan kubur terkecuali, maka apakah musibah yang terlebih besar apabila semua itu telah berlalu?”

Sepatutnya semua kita bersedih. Lebih-lebih lagi, kita tak tahu apakah akan bisa bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Mungkin ada yang meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Kalaupun masih hidup dan bertemu dengan Ramadhan selanjutnya, mungkin tak sesehat pada Ramadhan kali ini.

Kita pun tentu merasa sedih dengan perpisahan Ramadhan, akan tetapi perpisahan ini bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap istiqamah setelah Ramadhan dan tetap beramal sebagaimana amalan kita di bulan Ramadhan. Ini adalah tanda diterimanya amal kita

Para ulama mengatakan,

إن من علامةِ قبول الحسنة، الحسنة بعدها

“Sesungguhnya diantara alamat diterimanya kebaikan adalah kebaikan selanjutnya”

Semoga kita termasuk orang-orang yang diampuni dosanya pada bulan Ramadhan tahun ini, juga semoga Allah SWT senantiasa mengabulkan segala doa dan permintaan yang telah kita panjatkan dengan tulus hati. Jika Ramadhan tiba lagi tahun depan, semoga kita juga bisa menjumpainya dengan badan sehat dan hati yang senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *