tumblr_pee8izdr8Z1w6n4tao2_250

Inilah Golongan yang Mendapat Keringanan Untuk Tidak Berpuasa

Hukum berpuasa di Bulan Ramadhan adalah wajib bagi umat muslim. Namun, ada beberapa golongan orang-orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa di Bulan Ramadhan. Berikut adalah orang-orang yang mendapat keringanan.

  1. Orang yang sakit

Sakit yang dimaksud adalah orang yang sakit ketika menjalankan puasa. Hukum ini didasari dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Ada tiga kondisi seseorang bisa dikatakan sakit. Kondisi yang pertama adalah sakit ringan, seperti batuk, pilek, dan tidak berpengaruh besar pada aktivitasnya, maka kondisi ini harus tetap berpuasa. Kondisi yang kedua adalah orang yang sakit dan apabila tetap menjalankan ibadah puasa sakitnya malah bertambah parah, tapi tidak membahayakan, maka orang dalam kondisi ini dianjurkan untuk tidak berpuasa. Kondisi yang terakhir adalah apabila orang tersebut tetap berpuasa maka akan menyusahkan dirinya sendiri, maka orang ini dianjurkan untuk tidak berpuasa. Perlu digarisbawahi, jika orang tersebut sudah sembuh dari penyakitnya, maka ia tetap wajib menggantikan puasanya di luar Bulan Ramadhan sebanyak puasa yang ditinggalkan.

  1. Musafir atau orang yang melakukan perjalanan

Seseorang yang melakukan perjalanan jauh atau disebut musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa, tetapi harus menggantinya ketika perjalanannya selesai. Hukum ini sudah tertulis di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 185 yang artinya: “Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185). Meski demikian, musafir masih memiliki pilihan untuk tetap berpuasa. Ada tiga kondisi musafir saat berpuasa. Kondisi pertama, jika merasa berat di perjalanan dan merasa sulit melakukan hal-hal baik selama perjalanan, maka lebih utama untuk tidak berpuasa. Kondisi kedua, jika tidak merasa berat dan sulit melakukan hal-hal baik di perjalanan, maka lebih utama untuk berpuasa. Kondisi ketiga, jika tetap berpuasa selama perjalanan dan malah menyebabkan kematian bagi dirinya, maka lebih utama untuk tidak berpuasa.

  1. Orang yang sudah tua renta

Orang yang sudah tua dan lemah dicabut kewajiban puasanya dan tidak ada kewajiban untuk menggantikan puasanya. Para ulama bersepakat agar mereka cukup membayar fidyah. Membayar fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin sesuai dengan jumlah hari yang ia tinggalkan. Hukum ini sesuai dengan firman Allah pada surat Al-Baqarah ayat 184,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184).

  1. Wanita hamil dan menyusui

Di antara kemudahan dalam syariat Islam adalah memberi keringanan pada wanita hamil. Jika wanita hamil atau yang sedang menyusui takut ibadah puasa dapat mempengaruhi janin di dalam kandungan dan takut terhadap produksi ASI sebab ia berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْمُسَافِرِ وَالْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla meringankan setengah shalat untuk musafir dan meringankan puasa bagi musafir, wanita hamil dan menyusui.

Itulah beberapa golongan orang-orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Semoga bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *