makanan halal haram

Tidak Tahu Kehalalan Makanan Yang Dikonsumsi, Bagaimana Hukumnya?

Pernah gak Sobat Duha makan makanan dari supermarket setelah makanannya habis baru sadar gak ada label halalnya ? Atau lagi jalan – jalan di luar negeri bingung restoran mana yang benar – benar halal ? Kalau kita gak tahu makanan itu halal atau haram, lantas bagaimana hukumnya ?

Pastinya kita butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Sebagai seorang muslim kita wajib memakan makanan yang halal dan thoyyib. Tapi terkadang ada kondisi dimana kita tidak tahu percis kehalalan makanan atau minuman yang kita konsumsi.

Sejatinya kehalalan suatu makanan bukan hanya dari bahan makanan tersebut, bisa jadi bahan – bahannya halal tapi alat memasaknya terkontaminasi dengan bahan haram, atau bahan makanannya masuk ke kategori halal tapi cara pemotongan atau penyajiannya haram. Sebagai pelanggan di restoran misalnya, kita cuma tahu menu yang disajikan tanpa tahu bagaimana proses pembuatannya ataupun cara pemotongan hewan di restoran tersebut.

Lantas bagaimana untuk menyikapi hal ini?

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu :

أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا ، فَقَالَ : سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ . قَالَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا راوية الحديث : وَكَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالْكُفْرِ

“Bahwasanya ada suatu kaum yang berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ada satu kelompok manusia yang datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah disembelih atas nama Allah ataukah tidak? Maka beliau menjawab : “Sebutlah nama Allah oleh kamu atasnya dan makanlah”. Aisyah menjawab, “Mereka pada saat itu masih baru meninggalkan kekufuran.” (Riwayat Imam Al-Bukhari, Hadits no. 2057)

Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan bahwa “segala sesuatu yang diperoleh di pasar kaum muslimin, asalnya halal”. Begitu pula dengan hasil sembelihan mereka karena asalnya namanya muslim sudah paham keharusan membaca ‘bismillah’ saat menyembelih.

Karena itu, Ibnu ‘Abdil Abrr berkata bahwa “sembelihan seorang muslim boleh dimakan dan kita berprasangka baik bahwa ia membaca bismillah ketika menyembelih. Karena kita hendaklah berprasangka yang baik pada setiap muslim sampai jika ada sesuatu yang menyelisihi hal itu”. Demikian disebutkan dalam Fath Al-Baari, 9: 786.

Sesuai hadits di atas, kalau penjual daging atau makanan tersebut seorang muslim hendaknya kita berbaik sangka. Untuk lebih meyakinkan Sobat Duha bisa bertanya dulu sebelum membelinya, misalnya beli bakso di pinggir jalan atau gerobak lewat depan rumah, “Pak dagingnya halal gak?” kalau mereka bilang halal, insyallah benar halal.

Untuk makanan atau minuman dalam kemasan lebih mudah mengenalinya, Sobat Duha hanya perlu mengecek logo halal yang tertera. Produk yang sudah berlabel halal artinya sudah melewati serangkaian proses pengecekan dan persetujuan dari MUI ( Majelis Ulama Indonesia ).

Selapar apapun kondisi Sobat Duha alangkah lebih baik mencari makanan yang sudah terbukti / teruji halal, meskipun perjuangan untuk mendapatkannya tidak mudah. Yang penting bukan hanya perkara kenyang saja tapi keberkahan dari makanan tersebut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“ Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu beribadah. ”

( al-Baqarah / 2 : 172 )

 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيْرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Al-Baqarah: 173 )

Baca informasi lainnya seputar makanan halal di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *