rasulullah amarah islam

Meneladani Cara Rasulullah Meredam Amarah

Allah menganugerahkan manusia dengan akal & perasaan. Tidak bisa dipungkiri setiap manusia pasti pernah merasakan senang, sedih, bahagia, kecewa serta marah. Cara mengungkapkan amarah pun berbeda – beda. Ada yang dipendam dalam hati, ada pula juga yang bereaksi langsung dengan lisan ataupun sikap.

Ketika rasa marah datang, sebenarnya wajar – wajar saja, menjadi tidak wajar jika terlalu berlebihan. Secara medis pun menjelaskan, marah yang berlebihan berdampak serius pada kesehatan. Saat marah, seseorang melepaskan hormon – hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Bila terlalu banyak maka hormon tersebut bisa meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan banyak masalah pada kesehatan.

Sungguh merugi orang – orang yang tidak bisa menjaga amarahnya. Apalagi jika marahnya menyebabkan orang lain terluka baik fisik atau perasaan, bisa fatal akibatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat bukan diukur dengan bertarung. Orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Firman Allah Perihal Amarah

Dalam islam manusia dituntun ke arah yang lebih baik. Dalam firman – Nya Allah mengingatkan pada manusia perihal amarah ;

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134)

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Ali Imran : 133-134)

Di dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa marah adalah sifat setan. Allah berfirman :

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيم

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-A’raf: 200)

 

Cara Rasulullah Menahan Amarah

Nabi Muhammad sudah mencontohkan pada umatnya bagaimana seharusnya kita mengendalikan amarah, diantaranya ;

  1. Berwudhu

إن الغضب من الشيطان، وإن الشيطان خلق من النار، وإنما تطفأ النار بالما، فإذا غضب أحدكم فليتوضأ

“Sesungguhnya amarah berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Sesungguhnya api bisa dipadamkan dengan air, ketika salah satu di antara kalian marah, maka berwudlulah”. (HR. Abu Dawud)

Cara lainnya dengan meminum air. Setelahnya insya allah kita akan merasa sedikit lebih lega.

  1. Diam

Dalam sebuah hadits dikatakan, “Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).

Seperti kata pepatah ‘diam adalah emas’ ini berlaku saat kita sedang marah. Bisa jadi tanpa sengaja kita mengucapkan hal – hal buruk yang melukai perasaan orang lain dan malah menjerumuskan diri kita sendiri.

  1. Duduk & Berbaring

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila seorang dari kalian marah dan ia dalam keadaan berdiri hendaklah ia duduk, jika kemarahannya belum mereda maka hendaklah ia berbaring.” [HR. Abu Daud dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, Al-Misykaah: 5114]

  1. Sujud

Dalam sebuah hadits dikatakan “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (HR. Tirmidzi).

Bersujud bisa dilakukan dengan menjalankan shalat sunnah minimal dua rakaat.

  1. Membaca Ta’awwudz

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang. (HR. Bukhari dan Muslim)

أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ

A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim

Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *