berbisnis rasulullah

5 Tips Sukses Berbisnis Ala Rasulullah SAW

Siapakah sosok pembisnis yang paling Sobat DuHa kagumi? Bill Gates? Steve Jobs? Jack Ma? Ternyata ada lho sosok pembisnis yang patut dikagumi karena bukan saja kesuksesannya dalam berbisnis tapi juga akhlaknya yang menganggumkan yaitu Nabi kita Muhammad SAW.

Rasulullah mulai berdagang di usia 25 tahun, ia bahkan memulai usahanya tanpa modal uang hanya bermodalkan akhlak mulia. Belau berdagang ke negeri Syam dengan modal yang diberikan oleh Khadijah radhiallahu’anha (sebelum mereka menikah). Kala itu Khadijah merupakan seorang pengusaha yang cukup terhormat. Ia banyak mempekerjakan orang untuk menjalankan usahanya secara bagi hasil. Kala itu Khadijah mendengar tentang Rasulullah (sebelum diangkat sebagai Rasul) merupakan sosok yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang mulia. Maka ia pun mengutus seseorang untuk menawarkan Rasulullah menjual barang-barangnya ke negeri Syam.

Prinsip-prinsip bisnis yang diwariskan Rasulullah SAW telah menginspirasi hingga generasi saat ini. Beliau telah mengajarkan dasar-dasar etika dan moral, ilmu manajemen serta etos kerja yang mendahului zamannya. Adapun tips-tips sukses berbisnis ala Rasulullah SAW diantaranya;

  1. Berbisnis Dunia & Akhirat

Orientasi berbisnis Rasulullah tidak hanya mengedepankan dunia tetapi juga akhirat. Berbisnis menjadi usaha kita menjemput surga sehingga praktik dagang tidak hanya mementingkan keuntungan duniawi tetapi juga keselamatan di akhirat. Dengan pola pikir seperti ini kita terhindar dari praktik-praktik bisnis haram seperti bisnis prostitusi, berjualan minuman keras, menipu, dan lain sebagainya.

  1. Berbisnis Yang Jujur & Amanah

Jujur serta amanah merupakan sifat yang melekat pada Rasulullah SAW dalam berbisnis. Hal inilah yang mengantarkan beliau pada kesuksesan. Ketika di zamannya yang penuh ketidakpastian dan saling berkhianat, sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan menjadi dambaan.

Dalam berbisnis Rasulullah SAW tidak pernah mengurangi takaran timbangan. Bahkan terkadang dilebihkan untuk menyenangkan hati pembeli. Beliau kerap mengatakan kondisi barang apa adanya, baik itu kekuarangan maupun kelebihannya.

  1. Selalu Menjaga Kualitas Produk/Usaha

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)

Prinsip lain yang dianut oleh Rasulullah SAW ialah beliau selalu menjaga kualitas barang jualannya dengan tidak menjual barang rusak/cacat sehingga pembeli merasa rugi membelinya. Hal ini juga mengakibatkan dosa bagi penjualnya.

Di era digital saat ini mudah sekali melakukan penipuan dengan menjual barang rusak/cacat di media sosial ataupun ecommerce. Namun sebagai timbal baliknya Sobat DuHa akan mendapatkan review jelek yang mengakibatkan susahnya mendapatkan kepercayaan konsumen di kemudian hari.

  1. Bersikap Ramah

Rasulullah membangun hubungan interpersonal yang baik dengan rekan kerja ataupun pembeli. Beliau selalu menebar senyum, santun, ramah, dan bersikap bersahabat sehingga disukai pembeli. Beliau juga kerap menciptakan optimisme meskipun dalam keadaan sulit.

Kelebihan lainnya dari Rasulullah SAW, beliau mampu mengingat nama ataupun masa lalu dari mitra-mitra kerja yang ditemuinya. Beliau juga sangat menghargai waktu, tidak egois, memperlihatkan kesediaan untuk berkorban dan tidak suka mengobral janji. Hebat bukan?

  1. Tidak Melupakan Kekuatan Sedekah

Secara kasat mata sedekah berarti uang kita berkurang. Namun jika seorang muslim melibatkan keimanannya dalam berbisnis prinsip ini tidak berlaku lagi. Justru sebaliknya, uang yang kita keluarkan saat bersedekah mendatangkan manfaat. Sesuai dengan janji allah SWT, siapapun yang kerap bersedekah tidak pernah merugi.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Baqarah [2]: 245)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 261)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *