dullah

Jembatan Langit

Nama Dullah terkenal sampai ke negeri Jiran. Di sana banyak orang ribut ngomongin cara-cara berpikir Dullah yang liar gara-gara Dullah memberi seminar di sebuah kampus di negeri itu. Di kantor-kantor, di cafe-cafe bahkan sampai obrolan di kedai kopi, banyak orang berdiskusi soal cara berpikir Dullah yang dianggap aneh tapi nyata. Berita ini sampai ke telinga seorang pengusaha real estate di Johor.

Kebetulan pengusaha tersebut sedang membuat proyek baru, sebuah real estate mewah di kota itu. Kendalanya, lokasi real estate itu ada di sebrang kali yang sangat besar sehingga dibutuhkan biaya yang besar untuk membangun jembatan untuk sampai ke lokasi. Selain itu, dibutuhkan iklan yang gencar agar real estate itu bisa laku.

Dullah diundang oleh Pak Woon salah satu pengusaha real estate terbesar di sana. Dia dipanggil sebagai konsultan. Dullah diminta untuk memberi ide mengatasi persoalan kali besar dan biaya iklan agar tidak terlalu bengkak untuk menjual proyek tersebut.

Rupanya Pak Woon benar-benar pebisnis besar. Setelah mendarat di Kuala Lumpur, Dullah dijemput 2 asisten Pak Woon di Bandara. Dullah agak kaget dengan cara Pak Woon memperkakukan dia sesampainya di Malaysia. Semua fasilitas yang digunakan Dullah dari mulai mobil jemputan, cara pelayanan dan segala hal menyangut kepentingan Dullah benar-benar istimewa.

Dullah menemui Pak Woon di rumahnya. Satu-satunya rumah di tengah-tengah danau dan di tengah 10 tower apartemen yang berdiri sangat megah di kompleks itu.

Pak Woon menyalami dengan ramah sesampainya Dullah di rumahnya.

“Saya mau mengerjakan proyek ini tapi biayanya 10% dari biaya pembangunan jembatan dan iklannya.” Pinta Dullah kepada Pak Woon.

“Kenapa begitu mahal?” Tanya Woon kepada Dullah.

“Ini sangat murah Pak Woon. Real estate Anda yang luasnya 100 hektar ini akan laku kurang dari setahun tanpa iklan! Coba Bapak hitung kalau pakai iklan biayanya berapa?” Jawab Dullah menjelaskan.

“Bagaimana caranya menjual tanpa iklan?” Tanya Pak Woon lagi.

“Kita buat MoU dulu, baru saya akan presentasikan konsepnya.” Jawab Dullah.

“Baiklah, biaya membangun jembatan dan iklannya semua 300 milyar kalau dirupiahkan. Ini saya prediksikan akan laku setelah 5 tahun. Kalau Anda sanggup menjual seluruh rumah yang ada di kompleks ini dalam 1 tahun, saya tidak akan mengurangi biaya pembangunan jembatan dan biaya iklannya. Dan Anda akan kami bayar sesuai permintaan yaitu 10% dari total 300 milyar berarti 30 milyar! Tapi bagaimana kalau ternyata setelah 1 tahun proyeknya tidak laku?”

“Tak usah bayar Pak, free!!

Kesepakatan dibuat dan ditandatangani antara Dullah dan Pak Woon.

Dullah memulai pekerjaannya. Dia membawa tim terbaiknya dari Jakarta. Dia undang seorang arsitek terkenal dari Belanda namanya Paul Rudolph. Paul Rudolph yang sangat terkenal di dunia membangun gedung-gedung pencakar langit dan jembatan unik diminta untuk membuat jembatan menuju real estate tersebut.

Di Indonesia karya masterpiecenya adalah gedung Dharmala di Jalan Jendral Sudirman, Jakarta. Itu gedung paling indah dan paling ramah lingkungan di dunia. Aslinya di Belanda sana, gedung itu didesain tanpa AC. Sayang karena masalah teknis, terpaksa yang di Jakarta pake AC. Padahal lekuk-lekuk gedung unik itu justru untuk pengaturan aliran udara supaya bisa dingin tanpa AC.

Dullah melambungkan kepopuleran nama Paul Rudolph di Malaysia secara maksimal. Dari mulai kedatangan dia di Malaysia,  sampai acara tetek bengek Paul Rudolph yang berhubungan dengan jembatan itu, semuanya diliput media Malaysia lewat jasa PR yang dikontrak Dullah. Karena di dunia arsitektur Paul Rudolph adalah seorang arsitek visioner yang membuat proyek-proyek spektakuler! Pantaslah kalau dia menjadi incaran media untuk jadi sumber berita.

Pembangunan jembatan membutuhkan waktu 10 bulan. Dari bulan pertama hingga bulan ke 10 proses pembangunan jembatan yang unik ini terus diliput media. Ada beberapa koran dan 1 channel TV yang dikontrak Dullah untuk mem-PR kan proyek ini setiap langkahnya. Selain itu dia membuat viral marketing lewat internet untuk membuat setiap orang jadi penasaran dengan pembangunan jembatan itu. Dullah mengalokasikan 5% dari biaya pembangunan jembatan itu sebagai biaya PR bukan iklan.

Setelah 10 bulan, barulah jembatan ini diresmikan sekaligus menjadi acara Grand Launching Real Estate termewah di Kota Johor. Beritanya semua diliput media-media nasional dan media lokal di Malaysia. Bahkan beberapa media internasional ikut meliput berita itu.

Simsalabim!!! Tanpa iklan sama sekali, real estate sejumlah 5 ribu rumah yang harganya milyaran rupiah itu ludes terjual hanya kurang dari 2 bulan! Ini prestasi pertama yang diraih pengusaha real estate di Malaysia menjual rumah mewah seperti menjual kacang goreng.

Di mana-mana di Malaysia membicarakan proyek spektakuler tersebut. Dampaknya, setiap orang Malaysia memimpikan untuk punya rumah di kompleks itu.

Lalu, bagaimana sikap Dullah setelah menerima fee sebesar 30 milyar dari Pak Woon? Dullah menyisihkan 10 milyar dari upahnya itu untuk membangun mesjid di kompleks real estate mewah itu dengan nama BaituDullah. Mesjid yang menjadi salah satu ikon di perumahan mewah tersebut.

Sampai sekarang mesjid itu berdiri megah di kompleks itu dan Dullah menjadi konsultan tetap untuk proyek-proyek properti berikutnya dari perusahaan yang dipimpin oleh Pak Woon di Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *