pergi haji

Pergi Haji Naik Becak

Mas Karno, seorang tukang becak yang sudah lama menjalani profesinya. Dari umur 17 tahun  dia mengayuh becak sampai sekarang umurnya sudah 48 tahun. Berarti sudah 31 tahun dia menafkahi anak istrinya dengan cara menjual keringat di atas sadel becaknya.

Ada satu hal yang tak pernah ditinggalkan Mas Karno selama dia menjadi tukang becak. Dia selalu bangun pagi dan shalat subuh di mesjid jami dekat rumahnya. Habis shalat subuh, barulah Mas Karno menjemput rejeki berkeliling Kota Yogyakarta.

Satu hari, selepas Subuh, Dullah yang kebetulan shalat di Mesjid itu juga keluar Mesjid bersamaan dengan Mas Karno.

“Bang!” Panggil Dullah

“Boleh anter saya cari sarapan?”

“Inggih Pak, mari saya antar…” Sambut Mas Karno girang, keluar Mesjid langsung dapat penumpang.

“Bapak mau sarapan apa?” Tanya Mas Karno.

“Apa saja, yang penting makanan asli Jogja dan enak!” Dullah meminta kepada Mas Karno.

Sepanjang jalan mereka ngobrol ngalor-ngidul, sampai kemudian Dullah menanyakan sesuatu yang agak serius.

“Mas, cita-citamu apa?” Tanya Dullah.

“Waduhhh…jangankan cita-cita Pak, makan hari ini aja untuk saya sama keluarga belum tahu.” Jawab Mas Karno seperti kehilangan harapan.

“Nah, itu salahnya Mas. Setiap orang harus punya cita-cita meskipun kita belum tahu kapan tercapai. Cita-cita itu milik semua orang, bukan milik orang kaya saja. Kalau mau maju, orang seperti Mas Karno juga sama harus punya cita-cita yang kuat.” Dullahmeyakinkan Mas Karno.

“Mas Karno suka ngaji nggak?” Tanya Dullah.

“Suka Pak sehari satu juz tapi saya gak ngerti artinya. Sudah lama ngaji tapi selama itu hanya sedikit yang saya tahu isi Al Quran.” Mas Karno menjelaskan.

“Oh gitu? Di Al Quran ada ayat yang menjelaskan bahwa Allah itu mengikuti prasangka hambaNya. Kalau kita mikir mustahil kaya, yang gak mungkin kita dikasih kekayaan. Kalau kita yakin bisa kaya, Allah akan memberi kekayaan bagaimana pun caranya. Segalanya mudah buat Allah, tak ada yang sulit. Tinggal berkata: “Jadi, maka terjadilah!”

Mas Karno tidak menjawab, hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Dullah tanda setuju.

Sampai di sebuah kedai tak jauh dari Hotel Ambarukmo, Dullah nanya lagi.

“Jadi, cita-citamu apa mas?”

“Eng…anu Pak, seandainya…” Mas Karno berhenti sebentar.

“Seandainya Allah memang meridhoi, saya pengen pergi ke tanah suci. Saya pengen pergi haji Pak!” Jawab Mas Karno agak malu-malu.

“Nah, itu cita-citamu bagus banget! Cita-citamu mulia, Mas!” Dullah memberi motivasi.

“Mas Karno bisa pergi haji kapan saja, bisa tahun ini, tahun depan atau terserah kapan Mas Karno mau.

Uangnya dari mana Pak?” Tanya Mas Karno penasaran.

Sambil sarapan berdua Dullah dan Mas Karno ngobrol bagaimana supaya Mas Karno bisa pergi haji dalam waktu cepat. Selesai makan, Dullah memberikan instruksi.

“Mas, mulai besok saya akan jadikan Mas Karno pengusaha, bukan abang becak lagi. Nih, saya modalin sejuta. Besok pagi habis subuh belanja kue-kue basah di pasar. Mas Karno beli yang harganya 500 perak per buah. Nah, berarti dapet 2000 kue kan?”

“Bawalah kue-kue itu ke kantin-kantin kampus dan kantin sekolah, ikut titip jual. Bilang ke penjual kue ini 1000 harganya. Nanti penjual kue boleh jual 2000 per buah. Jadi penjual kue untung 1000, Mas Karno untung 500 rupiah saja per kue. Berarti Mas Karno untung 1 juta per hari kalau semuanya laku. Karena Sabtu dan Minggu kampus libur, berarti Mas Karno dapet 20 sampai 22 juta perbulan. Yang 5 juta boleh pakai buat belanja bulanan keluarga, yang 15-17 juta simpen buat ongkos haji ya. Dalam 6 bulan, Mas Karno sama istri bisa punya ongkos haji sendiri.”

“Jangan lupa ya, pagi belanja kue habis subuh terus anterin ke kantin beberapa kampus dan sekolah. Sorenya Mas Karno ambil uangnya dari kantin-kantin itu. Begitu yang harus dilakukan Mas Karno. Di luar itu monggo terserah mau narik becak atau mau memperbanyak ibadah terserah Mas Karno. Tapi kalau bisa, bantu usaha Mas Karno dengan cara memperbanyak ibadah, meminta kepada Yang Maha Kaya, jangan kepada orang kaya. Biar usaha Mas Karno lancar. Ini nomor telepon saya, nanti kalau sudah laku dalam sebulan, Mas Karno telepon saya. Saya akan kasih tahu selanjutnya apa yang harus dikerjakan supaya Mas Karno benar-benar jadi pengusaha.” Dullah panjang lebar memberi arahan.

Besok paginya, Mas Karno memulai hidup barunya.

Jam 02:00 mas Karno sudah ada di Pasar belanja kue-kue basah seperti yang diajarkan Dullah. Dengan semangat menggebu Mas Karno memilih kue-kue yang kemungkinan paling disukai anak-anak sekolah. Tak sampai satu jam pekerjaan memilih kue dibereskannya.

Pulang belanja, dia selalu mampir Sholat subuh di mesjid biasanya sebelum menyebarkan kue-kue jualannya ke kantin-kantin sekolah dan kampus.

Lalu, sebulan kemudian, Mas Karno telepon Dullah.

“Assalamu’alaikum Pak Dullah. Alhamdulillah berkat bantuan dan doa Pak Dullah usaha saya berhasil. Kue-kue itu laku terus. Dari 12 kantin yang saya ajak kerjasama, semua dagangannya laris terus. Kalau ada sisa, paling hanya beberapa saja. Itu pun saya bawa pulang untuk dimakan di rumah. Kadang-kadang saya bagikan ke teman-teman tukang becak. Tapi tidak pernah banyak. Cuma sedikit! Hasilnya sebulan kemarin 21 juta Pak! Allahu Akbar!!! Saya harus berterima kasih bagaimana Pak?” Mas Karno menceritakan keberhasilan usahanya kepada Dullah sambil terisak nangis.

“Alhamdulillah Mas Karno, saya seneng dengernya…”

“Perjuangan Mas Karno belum selesai. Nah, sekarang dari uang yang 21 juta itu silakan Mas Karno pake 5 juta maksimal untuk belanja kebutuhan rumah tangga. 10 juta simpan di bank ya….Sisa yang 6 jutanya Mas Karno cari 6 teman tukang becak lain yang amanah. Yang paling Mas Karno percaya. Ajari usaha seperti yang Mas Karno lakukan. Tapi temanmu jangan dikasih tahu bahwa kamu belanja kue di pasar. Pokonya mereka tahunya ambil kuenya di rumahmu jangan di pasar.”

“Berapa pun hasil usaha temenmu itu, harus dibagi dua! Kamu 50%, dan temanmu 50%. Jadi kalau dapet 21 juta misalnya. Kasih temanmu separonya atau 10,5 juta. Dia pasti senang dan akan setia sama kamu. Di mana ada tukang becak digaji 10 juta lebih kan? Nah lakukan ini kepada 6 orang temanmu ya!”

“Ba…baik Pak!!l Jawab Mas Karno agak gugup.

“Sudah paham semua apa yang saya omongkan?”

“Paham Pak Dullah, Alhamdulillah…”

Bulan depannya Dullah datang ke Yogyakarta lagi. Dia ketemu dengan Mas Karno di kedai tempat mereka sarapan pertama kali.

“Berapa sekarang penghasilanmu sebulan?” Tanya Dullah.

“80 juta Pak Dullah! 20 dari penghasilan saya dan 60 juta dari 6 teman saya. Teman saya semuanya senang Pak!”

Terus apa pekerjaanmu kalau siang?” Tanya Dullah

“Habis anter kue ke kampus dan sekolah, saya kembali ke mesjid bersih-bersih di sana. Kalau saya cape, saya ngaji dan terus ngaji Pak. Kata hadist, kalau saya banyak menggunakan waktu untuk ngaji, dunia saya Allah yang urus! Jadi saya sudah ndak narik becak lagi kecuali ada orang tua yang minta dianter,  ya saya anter.”

“Ok, betul itu, lakukan terus begitu aja. Kamu sudah ditolong Allah, maka wakafkanlah waktumu untuk Allah.”

“Baik Pak, saya ikhlas akan menerapkan itu sebisa saya.”

“Nah, Mas Karno, sekarang saya ajarkan tahap berikutnya. Besok orang yang suka jual ke Mas Karno itu ajak ngobrol. Mas Karno minta dibuatkan merek di kue-kue itu, misalnya mereknya “Karno”. Jadi nanti Mas Karno bukan jualan kue punya orang lain tapi kue punya Mas Karno sendiri, mereknya Karno. Kalau sudah begitu berarti Mas Karno sudah jadi pengusaha “Kue Karno”. Bukan tukang becak dan bukan tukang kue!”

Dullah segera pamit setelah pertemuan itu karena dia harus ngisi seminar di Solo.

Usaha Mas Karno makin lama makin besar. Makin banyak tukang becak yang beralih jadi tukang kue mengikuti langkahnya. Sekarang bukan cuma pergi haji, bahkan Mas Karno sudah bisa memberangkatkan tetangga-tetangga dan sahabat-sahabatnya yang tukang becak pergi haji lebih dari 20 orang!

Prestasi memberangkatkan sahabat-sahabat dan para tetanggganya itu membuat Mas Karno diperlakukan seperti pahlawan. Sebaliknya, Mas Karno tetap hidup bersahaja, rendah hati, hampir tak ada yang berubah. Selain hidupnya lebih teratur dan tampak lebih bersih. Mas Karno tak pernah menggunakan uangnya untuk kebutuhan pribadinya secara berlebih. Dia tetap mengikuti anjuran Dullah: hanya menggunakan 5 juta untuk belanja keperluan keluarganya meskipun hidupnya sudah sangat berkecukupan. Setiap mau menggunakan uangnya Mas Karno selalu telepon, minta ijin kepada Dullah seolah uang itu milik Dullah.

“Ee…anu Pak Dullah, uangnya sudah banyak, boleh aku bikin masjid?” Tanya Mas Karno suatu kali.

“Subhanallah Mas Karno….!!! Aku benar-benar bahagia mendengar kabar ini.” Jawab Dullah kagum.

“Alhamdulillah Pak Dullah, biar masjid deket rumah jadi besaaar.” Sambut Mas Karno terharu.

“Kalau nanti aku juga mau bikin pesantren boleh ndak Pak Dullah?” Tanya Dullah di lain waktu.

“Lha, Mas Karno, itu uangmu, bukan uangku! Selama tujuannya baik dan uangnya cukup, mas Karno pakai apa pun boleh! Gak perlu minta ijin aku!” Ungkap Dullah meyakinkan Mas Karno.

“Anu Pak Dullah, aku takut. Dulu cita-citaku kan kepingin haji dan itu sudah terkabul. Aku ndak berani pake uangnya diluar cita-citaku dan kebutuhan utamaku. Makanya aku selalu ijin Pak Dullah khawatir Allah ndak ridho.”

Begitulah Mas Karno yang lugu tapi akhlaknya benar-benar terjaga. Dia membangun mesjid, membangun pesantren, membangun yayasan yatim piatu, tapi dia tidak berani membangun rumahnya sendiri. Dia zuhud sama harta!

Mas Karno tetap hidup sederhana, tidak tergoda dengan tumpukan uang yang sudah berhasil diraihnya. Dia gunakan semua yang ia peroleh untuk kepentingan agama dan sosial. Dia juga tetap berkomunikasi dengan Dullah setiap mau menggunakan uang hasil bisnisnya meskipun Dullah sudah membebaskan Mas Karno untuk menggunakan uangnya sebebas-bebasnya.

Itulah kehebatan Mas Karno. Biarpun secara ekonomi sudah jauh berubah tapi akhlak dan mentalnya tetap tidak berubah .

Dan itulah kehebatan Dullah. Mampu menyulap tukang becak jadi pengusaha kue beromset ratusan juta sebulan dan hasilnya bisa bermanfaat buat orang banyak.

“Kalau Allah menghendaki, segalanya akan menjadi mudah.” Itulah prinsip bisnis Dullah selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *