tahun baru masehi menurut islam

Tahun Baru Masehi: Sejarah & Pandangan Menurut Islam

Akhirnya kita menjumpai akhir tahun 2017. Euphoria tahun baru masehi pasti sudah ramai dimana-mana. Sobat DuHa tentu pernah merayakah tahun baru masehi, tapi pernah gak sih Sobat DuHa cari tahu asal-usul perayaan ini? Apa tanggapan islam tentang ini dan apa yang membedakan tahun baru masehi & tahun baru islam? Admin DuHa kali ini akan membagikan informasinya ke Sobat DuHa sekalian…

Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi  

Banyak referensi yang menyebutkan perayaan tahun baru masehi pertama kali dilakukan di wilayah Mesopotamia pada tahun 2000 sebelum masehi. Pada masa itu perayaan tahun baru dilaksanakan pada bulan Maret, bukan Januari, karena berkaitan dengan pergantian musim. Perayaan dilaksanakan pada bulan Maret juga dikarenakan jumlah bulan di kalender Romawi yang sebelumnya hanya 10 bulan dalam setahun.

Pada tahun 700 sebelum masehi, kalendar Romawi diperbaharui, ditambahkan 2 bulan. Penambahan ini karena kekurangan hari yang tidak cocok untuk menyatakan musim yang ada. Walau sudah berganti, perayaan tahun baru pada tanggal 1 Januari pertama kali dilakukan pada tahun 153 sebelum masehi.

Hingga pada tahun 46 sebelum masehi, Julius Caesar memperkenalkan kalendar baru yang dipujanya sebagai kalendar yang sempurna. Kalendar tersebut berdasarkan pada pergerakan matahari. Di tahun 1582, kalendar buatan Julius Caesar ini disempurkanan, hingga menjadi kalendar yang banyak dipakai umat manusia sampai saat ini.

Tahun Baru Masehi Menurut Islam  

Sekarang, perayaan tahun baru masehi dirayakan orang-orang dari berbagai penjuru dunia dengan letusan kembang api yang meriah. Acara seperti ini mungkin bagi sebagian orang dianggap sebagai perayaan yang sangat boros. Islam pun memiliki beberapa pendapat tentang perayaan ini.

Ada beberapa pendapat dalam islam yang tidak mendukung perayaan hari tahun baru masehi karena dianggap perayaan tersebut merupakan tradisi bangsa Eropa yang tidak perlu dirayakan semua orang. Pendapat itu tidak salah karena perayaan tahun baru masehi memang berasal dari Kebangsaan Romania. Tidak seperti tahun baru Hijriah, dimana perayaan ini dirayakan setelah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekah, yakni dinamakan Hijrah.

Ada juga yang khawatir jika perayaan tahun baru masehi bisa mengundang banyak maksiat, seperti minum-minuman keras, berzina, dan berhura-hura. Tentu dengan menghindari perayaan ini, kita sebagai umat bisa mencegah hal-hal negatif yang dilarang agama.

Dari beberapa pendapat yang bertentangan, ada juga beberapa yang berpikir positif seperti adanya penambahan hari libur kerja atau sekolah, sehingga kita bisa berkumpul & bersilaturahmi bersama keluarga atau kerabat terdekat. Tentu semua balik lagi ke niat masing-masing individu.

Nah, mudah-mudahan Sobat DuHa bisa menentukan sendiri bagaimana harus menghabiskan waktu saat perayaan malam tahun baru masehi nanti. Disarankan sebagai umat muslim jangan lah melakukan hal-hal yang dilarang agama, dengan alasan apapun, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat dan halal, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *